Ketika berada di Kordoba, suatu hari aku berjalan-jalan di sebuah los pasar yang menjual buku. Aku menemukan sebuah buku yang sudah lama aku cari. Aku gembira sekali. Bahkan saking gembiranya, buku itu aku bayar lebih dari harga semestinya. Saat akan menyerahkan uang, tiba-tiba datang seorang berpakaian necis langsung membayar lebih mahal lagi untuk buku tersebut. Sejenak aku terkesiap. Aku dekati ia.
"maaf, Tuan pasti seorang ulama besar. Kalau memang sangat membutuhkan buku itu, biar untuk Tuan saja, sekalipun aku telah membayar lebih dari harganya". Kataku
"aku bukan seorang ulama. Bahkan aku tidak tau tentang ilmu agama. Aku hanya gemar mengoleksi buku-buku supaya terkesan sebagai ulama atau setidaknya orang yang terpelajar. Mengingat rak bukuku masih ada yang kosong, dan tampaknya buku ini isinya bagus. Syukurlah, Allah menganugerahkan kepadaku rezeki yang banyak,"
Dengan kesal aku berkata, " Baiklah, orang seperti Tuan ini memang layak mendapatkan rezeki berlimpah. Tapi Tuan tak ubahnya orang yang ompong, yang diberi buah pala. Biarlah, karena kemiskinan, aku gagal mendapatkan buku bermutu yang amat berguna bagiku".
Subhanallah, semangat Al-Haldrami dalam mencari ilmu sangat pantas bahkan perlu untuk dijadikan teladan. Tapi sangatlah menyedihkan ketika kemiskinan membuat batasan bagi kita untuk mencari ilmu. Seperti dulu waktu saya duduk di bangku sekolah, sayapun sempat merasakannya, dan inilah yang menjadi acuan hidup saya, semoga anak cucu saya kelak tidak merasakan hal yang sama dengan saya.
keep spirit for all. !!!!!
come on buktikanlah bahwa kemiskinan bukan alasan untuk kita berhenti berjihad dalam menuntut ilmu. !!!
semoga bermanfaat :)
salam ukhuwah !

0 comments:
Post a Comment